Pendidikan karakter adalah hal yang penting untuk anak usia berapa pun karena dengan karakter yang baik, mereka akan lebih mudah mendapatkan kesuksesan.
Pendidikan karakter dapat dimulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan cara yang berbeda.
Finansialku akan membahas beberapa cara tersebut untuk masing-masing tingkat pendidikan.
Pengalaman yang dirasakan oleh seorang anak pada masa kecilnya sangat berpengaruh dalam membentuk karakter pada saat anak tersebut menjadi dewasa.
Pendidikan Karakter: Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Setelah anak bertambah usia dan memasuki masa-masa Sekolah Menengah Pertama (SMP), ada beberapa pendidikan karakter yang perlu Anda ketahui.
Berikut beberapa pendidikan karakter yang perlu diperhatikan saat anak Anda SMP.
#1 Berhati-hati dalam Bertutur Kata
Di usianya yang menjelang tahap remaja, seringkali emosi anak susah terkendali dan mereka mengatakan hal yang tidak sepantasnya mereka katakan.
Apalagi luasnya sosial media dan kecanggihan teknologi dapat membuat mereka bingung mana yang boleh dan tidak boleh mereka ucapkan.
Trik untuk mengajarkan anak Anda adalah dengan menuangkan gula pasir sachet ke dalam sebuah tisu, kemudian suruh mereka untuk mengembalikan gula tersebut ke dalam sachet.
Sulitnya mengembalikan gula dapat dijadikan perumpamaan sulitnya menarik kembali kata-kata yang telah terucap.
#2 Optimisme
Seorang anak yang pesimis akan menganggap suatu kejadian buruk sebagai sesuatu yang permanen dan personal.
Sebaliknya, seorang yang optimis mengerti sebuah kejadian yang tidak diinginkan adalah kejadian pasti dan disebabkan oleh suatu alasan.

Contohnya, anak pesimis akan menganggap bahwa nilai jelek adalah akibat dia bodoh sedangkan anak optimis menganggap nilai jelek sebagai akibat kurangnya persiapan.
Tentu saja sikap optimis harus dilatih sejak masa kecil, terutama masa SMP, ketika pendidikan mulai menjurus dan tingkat stres lebih tinggi.
Salah satu caranya adalah dengan menunjukkan bahwa terdapat solusi-solusi untuk suatu masalah (mulai dari soal matematika atau fisika).
Dengan cara ini, anak akan lebih termotivasi untuk mencari solusi lain (lebih optimis) dan risiko depresi akan menurun.
#3 Keragaman dan Perbedaan
Pada usia ini, anak telah mengerti bahwa terdapat berbagai keragaman, mulai dari suku, agama dan sebagainya.
Agar anak Anda dapat menghargai perbedaan, ajaklah mereka untuk menyusun sebuah pot yang diisi oleh bunga dengan berbagai warna. Setelah itu, diskusikanlah indahnya pot tersebut jika terdapat bermacam warna.